Bandung, 26 Juni 2025 – Miliaran rupiah investasi teknologi bisa jadi sia-sia jika tidak “diterjemahkan” dengan baik oleh tim yang berhadapan langsung dengan pelanggan. Ini adalah salah satu insight kritis yang disampaikan oleh Muhamad Sabar, MT., dosen sekaligus moderator seminar “Front Line Service Professional and Digital Transformation: Navigating Change, Embracing Technology” yang diselenggarakan Universitas Teknologi Bandung (UTB) kemarin, Rabu (25/6), di Gedung GNP PT INTI, Bandung.
Sebagai fasilitator diskusi antara pakar industri dan akademisi, Muhamad Sabar memiliki posisi unik untuk mengamati dinamika transformasi digital dari berbagai sudut pandang. “Seringkali, top manajemen berinvestasi besar pada teknologi mutakhir, namun lupa bahwa implementasi dan penerimaan di level front line adalah penentu keberhasilan paling krusial,” ungkap Sabar dalam wawancara eksklusif.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam transformasi digital bukan lagi pada ketersediaan teknologi, melainkan pada “kesenjangan literasi dan mindset digital“ di kalangan profesional layanan. “Pentingnya seminar ini bukan sekadar mendengar teori dari para pakar,” jelas Sabar. “Tapi lebih pada bagaimana kita bisa membongkar hambatan psikologis dan praktis agar tim front line tidak merasa terancam oleh teknologi, melainkan menjadikannya kekuatan.”

Seminar ini menghadirkan jajaran pembicara yang berkompeten di bidangnya:
- Drs. Rudy Lizwaril Sjaiful, S.E., MM dari PT Inti Bumi Perkasa dan Universitas Widyatama, yang berbagi wawasan tentang tata kelola adaptif.
- Dr. Lina Auliana Santika, Presiden Indonesia Marketing Association (IMA) chapter Bandung.
- Abdurrohman, Ph.D. dari UTB, sebagai peneliti teknologi dan perubahan organisasi.
- Daniel Nugraha dari Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), yang memberikan perspektif industri.
- Jack Febrian Rusdi, Ph.D. dari UTB, seorang ahli layanan digital sekaligus Presiden ASEAN Universities Collaboration, menyoroti tren global dan kolaborasi.
Sabar juga menyoroti pentingnya “prototipe dan feedback loop cepat“ dalam proses digitalisasi layanan. “Alih-alih menunggu sistem sempurna, organisasi perlu mulai dengan solusi kecil, mengujinya langsung di garis depan, dan segera mendapatkan umpan balik untuk perbaikan. Inilah cara tercepat agar teknologi benar-benar relevan dengan kebutuhan pelanggan dan mudah diadopsi oleh tim,” katanya.
Acara ini terselenggara berkat dukungan kolaboratif dari berbagai lembaga, meliputi Universitas Teknologi Bandung (UTB) sebagai penyelenggara utama, serta turut didukung oleh Inti Bumi Perkasa (IBP), Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Indonesia Marketing Association (IMA), dan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA). Dukungan dari beragam entitas ini menunjukkan komitmen lintas sektor dalam memajukan kapabilitas digital di Indonesia.
Bagi pelaku bisnis dan organisasi yang ingin lembaga mereka maju, Sabar menegaskan: jangan hanya fokus pada sisi backend digitalisasi. “Perhatikan betul journey digital yang dialami oleh staf front line Anda. Berikan mereka pelatihan yang bukan hanya teknis, tapi juga melatih empati dan kemampuan memecahkan masalah kompleks yang mungkin timbul akibat adopsi teknologi. Libatkan mereka sejak awal dalam proses desain solusi digital. Merekalah “antena“ organisasi yang bisa menangkap sinyal keberhasilan atau kegagalan sebuah inisiatif digital secara langsung,” pungkas Muhamad Sabar, MT., memberikan insight praktis yang dapat langsung diterapkan.







